Dalam rangka mewujudkan cita-cita pembangunan Nasional menuju masyarakat yang adil dan makmur, berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, maka peranan pemerintah mulai dari tingkat pusat sampai ke Eselon bawahan sangat menentukan.

Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Langkat Nomor 5 Tahun 2009 Tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Kecamatan dan Kelurahan, Camat merupakan perangkat daerah yang didalam menjalankan tugasnya dibawah dan bertanggung jawab kepada kepala daerah, dengan tugas pokok melaksanakan sebagian kewenangan pemerintah dari Kepala Daerah di bidang pemerintahan, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan serta kesejahteraan sosial dan pelayanan umum.

Dalam kaitannya dengan upaya memberhasilkan pelaksanaan tugas yang telah diprogramkan secara konsepsional tersebut, maka landasan hukum yang menjadi pedoman dan tuntunan didalam menentukan arah, pola pikir, dan kerangka tindakan dilandasi dengan segala Peraturan Perundang-Undangan.

 

  1. SEJARAH ASAL BAHOROK

Salah seorang Suku Sukatendel (tanah karo) yang mempunyai istri dua orang, berburu ke hutan di Kawasan Tanah Karo. Dalam perburuan tersebut, menemukan satu ruas bambu, yang didalam bambu ini terdapat anak bayi laki-laki. Anak ini dipelihara oleh perempuan tua ( yang tidak mempunyai anak ) tersebut, yang kemudian menjadi ibunya dan bersama ibunya tinggallah mereka di tempat ini. Dan daerah ini akhirnya dinamai Kuta Buluh.

Setelah anak yang berasal dari bambu ini besar ( dewasa ), maka sesuai petunjuk ibunya, kawinlah ia ke Kampung Sukatendel. Dari perkawinan ini, telah memperoleh lima orang anak, satu diantaranya ( yang tengah ) bernama Dewa Sahdan Perangin-Angin, meninggalkan Agamanya ( masuk Islam ), karena mau kawin dengan orang Pagaruyung di Deli Tua. Disini ia mempunyai tiga orang anak, yaitu : 2 ( Dua) anak laki-laki, 1 (Satu) anak perempuan, yang bernama : Sutan Jabar, Sutan Usin, dan Putri Hijau.

Karena terjadinya perselisihan antara Sutan Jabar dengan Sutan Usin, maka untuk menghindari perselisihan yang lebih jauh, dibawalah Sutan Usin ke arah Hulu menyusuri Sungai Wampu. Sedangkan saudaranya Sutan Jabar dibawa Muntel ke Malaka.

Sutan Husin dalam menyusuri Sungai Wampu ke arah hulu singgah di suatu tempat untuk istirahat. Tempat itu merupakan pertemuan dua aliran sungai yaitu sungai Wampu dan Sungai Bahorok dan akhirnya mereka membangun rumah di tepi sungai tersebut. Sutan Husin bersama kerabatnya pergi berburu dari tepi pantai dan menyusuri bukit. Disana mereka menemukan pohon yang tumbuh diatas bukit yang sedang berbuah, yang rasa isi buah tersebut sangat enak. Namun karena tidak diketahui nama buah tersebut, maka nama buah tersebut mereka beri nama sesuai dengan keberadaan daerah sekitar ( Pohon Buah tersebut berada diatas sebuah bukit ). Karena Sutan Husin dan kerabatnya merupakan Suku Karo, mereka beri nama dengan bahasa Suku Karo yaitu Buah Huruk. Istilah ini dalam Bahasa Karo artinya adalah Buah diatas bukit. Pohon tersebut terletak di kuala tanjung, lebih kurang 1 Kilometer dari pusat Kelurahan Pekan Bahorok saat ini. Dimana dahulunya kampung Bahorok ini namanya adalah Tanjung ( pertemuan antara sungai Wampu dan Sungai Bahorok ). Buah tersebut seperti Buah Seri dan Pohonnya seperti Pokok Tualang. Buah ini disukai burung sebagai makanannya.

Dilihat dari cerita diatas, sudah jelas asal kata Bahorok dari buah-buahan yang dinamai Buah Huruk, jadi lafaz dari pengucapan Buah Huruk berubah nama menjadi BOHOROK.

Tempat pertemuan yang disinggahi oleh Sultan Husin di pertemuan dua aliran Sungai dinamai Kampung Tanjung, dan disinilah dimulainya Kerajaan Kecil Bohorok. Kerajaan-Kerajaan kecil yakni Bohorok, Selesai, Stabat, dan Bingai dapat disatukan menjadi satu Kerajaan besar. Dan oleh Raja yang dinobatkan nama kerajaan ini disebut Kerajaan Langkat.

Pada Tahun 1987, yang pada saat tersebut Kepala Kecamatan dijabat oleh Mula Sembiring, sebutan Bohorok diubah menjadi Bahorok. Perubahan tersebut dikarenakan adanya pemalsuan Stempel Dinas Kecamatan Bahorok, Stempel Dinas Kepala Desa Batu Jong-Jong, yang dilakukan oleh Sdr.Martin. oleh sebab itu atas usul Camat agar Stempel Dinas Kepala Kecamatan Bahorok dan seluruh Stempel Dinas Kepala Desa se Kecamatan Bohorok dirubah, sehingga seterusnya sampai saat ini nama Bohorok pada Stempel Dinas Kepala Kecamatan dan Kepala Desa / Kelurahan menjadi Bahorok. Namun tidak demikian pula halnya pada stempel Dinas Polsek, Koramil, KUA, Puskesmas, P dan P, Stempel Dinas yang ada pada Dinas / Jawatan tersebut masih utuh, tidak berubah, dan tetap menggunakan nama BOHOROK. Sebagaimana yang tercantum pada beberapa Gran / Surat Tanah yang asli, yang dikeluarkan pada masa Kejuruan / Kerajaan ( sebelum masa Republik “45” ) bahwa stempel yang digunakan oleh kejuruan pada masa tersebut menggunakan nama BOHOROK.

 

  1. LATAR BELAKANG PERKEMBANGAN BAHOROK

Terjadinya perkembangan Bahorok, orang-orang Kampar datang dan berjualannya di Bahorok sepanjang sungai Wampu. Pada masa itu, pusat perdagangan melalui aliran sungai Wampu. Alat transportasi masih menggunakan sampan, membeli garam ke Pangkalan Brandan menyelusuri Sungai Wampu. Untuk di Bahorok, pusatnya di Tanjung, tidak jauh dari Kelurahan Pekan Bahorok saat ini, lembih kurang 1 Kilometer. Yang waktu ini tampuk kepemimpinan Bahorok dipegang oleh Tengku Tan Deraman anak dari Tengku Djukdin ( Gelar Kejuruan Maklumsyah ) Bin Tengku Panji Sakar ( Gelar Kejuruan Indra Setia ) Bin Tengku Syahmardan ( Gelar Raja Alamsyah ) Bin Sutan Husin Bin Dewa Sahdan. Kemudian atas anjuran dari Raja tersebut pada warga maka diberikan kesempatan kepada Rakyat untuk mengambil / membuka ladang masing-masing untuk membangun perekonomian rakyat.

  1. SEJARAH TERBENTUKNYA BAHOROK
  2. Zaman Kerajaan

Lebih kurang pada Abad ke 16 Masehi, Raja Bahorok dipilih Rakyat secara langsung. Maka berdirilah satu kerajaan di Bahorok yang dipimpin oleh Sultan Husin Bin Dewa Sahdan Perangin-Angin Raja yang pernah berkuasa di Bahorok, adalah :

  1. Raja Sutan Husin Bin Dewa Sahdan Perangin-Angin, yaitu Raja pertama Bohorok, kemudian :
  2. Tengku Syahmardan Bin Sutan Husin ( Gelar Raja Alamsah ) yaitu anak dari Sutan Husin, kemudian :
  3. Tengku Panji Sakkar Bin Tengku Syahmardan ( Gelar Kejuruan Indra Setia ) yaitu anak dari Tengku Syahmardan, kemudian :
  4. Tengku Djukdin bin Panji Sakkar ( Gelar Kejuruan Maklumsyah ) yaitu anak dari Tengku Panji Sakkar, kemudian :
  5. Tengku Tan Deraman Bin Tengku Djukdin ( Gelar Kejuruan Indra Perkasa ) yaitu anak dari Tengku Djukdin.
  6. Tengku Basir bin Tengku Djuksin ( Gelar Kejuruan Sri Indra Muda ) yaitu juga anak dari Tengku Djukdin

Sampai Tahun 1835 yaitu masuknya penjajahan Belanda, Tengku Basir mengungsi ke Kota Cane – Aceh Tenggara, yaitu di Kampung Pulan Kenas. Ia mangkat di Kota Cane sampai sekarang anak dan cucunya menetap disana. Ketika Tengku Basir mengungsi ke Kota Cane, Raja yang memegang kekuasaan di Bohorok sebagai penggantinya adalah : Tengku Tan Perang adik dari Tengku Tan Deraman.

  1. Tengku Lengkong ( Gelar Kejuruan Sakmar Diraja ), yaitu anak dari Tan Perang Selah mangkat lalu diangkat:
  2. Tengku Hasyim ( Gelar Kejuruan Indra Pahlawan ) yang mendirikan Mesjid Bahorok ( Tahun 1917 ), Tanggal 27 Mei 1935 Mangkat Tengku Hasyim maka diangkatlah:
  3. Tengku Bahagi ( Gelar Kejuruan Sakmar Diraja ) yaitu adik dari Tengku Hasyim, merupakan kejuruan Sumatera, dan dilanjutkan:
  4. Tengku Saidi Husni ( menantu Tengku Hasyim ) dan menjelang Tahun 1945, diangkat:
  5. Tengku Sembab, sampai Tahun 1945
  6. Tengku Abdoel Moerad bin Tengku Cit Hasan bin Tengku Hasyim ( sebagai pemangku adat kejuruan ).
  7. Tengku H. Alfit Hasyim Saktisahdan bin Tengku Abdoel Mooread ( sebagai pemangku adat kejuruan ).

Perubahan istilah menjadi pemangku adat kejuruan disebut setelah adanya masa Republik, adapun silsilah ( Trombo ) sejarah Kerajaan diatas dipegang H. Tengku Alfin Hasyim Saktisahdan bin Tengku Abdoel Mooerad.

Dari sejarah kerajaan tersebut, yang memimpin kerajaan di Bahorok adalah merupakan keturunan Suku Karo, anak cucu kandung Dewa Syahdan Perangin-angin ( ayah dari suku dan ibunya suku melayu )  orang Pagaruyung dari Deli Tua.

 

 

  1. Zaman Belanda

Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, Kecamatan Bahorok berada dibawah naungan pemerintahan / Kerajaan Sultan Langkat dengan pusat pemerintahannya terletak di Kota Tanjung Pura. Selanjutnya pada waktu itu Kabupaten Langkat merupakan asisten Keresidenan dan dibawahnya terdapat 3 ( tiga ) Luhak, yaitu :

  1. Langkat Hulu
  2. Langkat Hilir
  3. Teluk Haru

Dengan adanya pembentukan Luhak, maka pada waktu itu Kecamatan Bahorok merupakan bagian dari Luhak Langkat Hulu, dikenal dengan kejuruan Bohorok dan waktu itu dipimpin oleh Tengku Lengkong Bin Tan Perang, dengan pembantunya adalah :

  • Sebagai Kepala Hulu Balang Panglima, adalah :
  1. Iman Tampan, yang berasal dari Sigli, Aceh
  • Sebagai Hulu Balang / Panglima adalah :
  1. Tandel Masara, yang berasal dari Tongging, Tanah Karo
  2. Balai, yang berasal dari Simalungun
  3. Dalam, yang berasal dari Gayo – Aceh
  • Sebagai penasehat Raja / Kepala Agama, adalah :

Syekh Abdussalam Alias Datuk Landak dari Malaya

  1. Zaman Kemerdekaan

Selanjutnya pada masa Kemerdekaan status masa Kemerdekaan, status Kabupaten Langkat masih Keresidenan dan sekitar Tahun 1947 s/d 1949 Kabupaten Langkat dibagi menjadi 2 (dua ) yang terdiri dari :

  1. Pemerintahan NST ( Negara Sumatera Timur )
  2. Negara Kesatuan Republik Indonesia

Jadi Kecamatan Bohorok termasuk pemerintahan Negara Sumatera Timur ( NST ). Keluarnya PP Nomor 7 Tahun 1965 Tentang pembentukan Daerah Otonom di Provinsi Sumatera Utara, maka Kabupaten Langkat ditetapkan menjadi Daerah Otonom. Maka pada waktu itu Kecamatan Bohorok berada dibawah Pemerintahan Asisten Wedana. Adapun Pejabat yang pernah Menduduki Jabatan sebagai Asisten Wedana ataupun menjabat kedudukan sebagai Camat di Wilayah Kecamatan Bohorok adalah sebagai berikut :

No. Nama Tahun Jabatan Keterangan
1 M. RAYID MOGO 1946 – 1954 Asisten Wedana
2. SIBAYAK RAJA SUNGKUNEN G. SUKA 1954 – 1956 Asisten Wedana
3. OK. H. ABDUL RAHMAN 1956 – 1960 Asisten Wedana
4. WAN BAHSAN BARUS 1960 – 1963 Asisten Wedana
5. ALIUDIN SIMATUPANG 1963 – 1966 Camat
No. Nama Tahun Jabatan Keterangan
6. USMAN HASIBUAN 1966 – 1967 Camat
7. YAHMAN SITOMPUL. BA 1967 – 1969 Camat
8. H. SUNDOKO. BA 1969 – 1973 Camat
9. Drs. AMINULLAH PURBA 1973 – 1975 Camat
10. MANSYUR DAHLAN BA 1975 – 1978 Camat
11. Drs. AMIRUDDIN KAHAR 1978 – 1982 Camat
12. ABDUL LATIF BA 1982 – 1984 Camat
13. Drs. H. REH AMAN TARIGAN 1984 – 1986 Camat
14. MULA SEMBIRING BA 1986 – 1989 Camat
15. HORMAT SITEPU BA 1989 – 1991 Camat
16. Drs. KHAIRIAL KASIM 1991 – 1992 Camat
17. H. ABDUL AZIZ BA 1992 – 1997 Camat
18. Drs. JAYA SITEPU 1997 – 2007 Camat
19. Drs. SEKULA SINGARIMBUN M.AP 2007 – 2013 Camat
20. Drs ABDUL KARIM M.AP 2013 – 2014 Plt. Camat
21. PERSADANTA SEMBIRING,SH M.AP 2014 – Sekarang Camat

Tabel 1 , pejabat Kecamatan Bahorok dulu hingga sekarang.

Pemerintahan Asisten Wedana Bahorok, dengan membawahi 17 ( Tujuh Belas ) orang Kepala Kampung, yaitu :

  1. Kampung Bohorok
  2. Kampung Empus
  3. Kampung Sematar
  4. Kampung Turangi
  5. Kampung Simpang Pulo Rambung
  6. Kampung Perkebunan Pulo Rambung
  7. Kampung Tanjung Lenggang
  8. Kampung Sebertung
  9. Kampung Timbang Lawan
  10. Kampung Sampe Raya
  11. Kampung Perkebunan Bukit Lawang
  12. Kampung Sei Musam Kendit
  13. Kampung Perkebunan Sei Musam
  14. Kampung Perkebunan Bungara
  15. Kampung Suka Rakyat
  16. Kampung Batu Jong-Jong
  17. Kampung Lau Damak

 

Selanjutnya dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 Tentang Pemerintahan Desa, maka istilah nama “ Kampung “ menjadi nama “ Desa “.

  • Pada Tahun 1992, Kecamatan Bahorok memiliki Jumlah Desa sebanyak 17 (tujuh belas) Desa dilakukan pemekaran, yaitu Desa Sebertung dimekarkan menjadi : Desa Perkebunan Amal Tani ( 18 )
  • Pada Tahun 1995, dilaksanakan lagi pemekaran Desa, yaitu Desa Tanjung Lenggang, dimekarkan menjadi dua Desa yaitu : Desa Sumber Jaya ( 19 )
  • Pada Tahun 2004, dilakukan lagi pemekaran, Desa Timbang Lawan menjadi dua Desa, yaitu : Desa Timbang Jaya ( 20 )
  • Pada Tahun 2005, status administratif Desa Pekan Bahorok berubah menjadi Kelurahan Pekan Bahorok
  • Dan pada Tahun 2006, terbentuk lagi pemekaran Desa, Desa Sei Musam Kendit menjadi dua Desa, yaitu : Desa Musam Pembangunan ( 21 )
  • Pada Tahun 2006, Sebertung kembali lagi dimekarkan menjadi dua Desa, yaitu : Desa Pulau Semikat ( 22 )
  • Sehingga pada Tahun 2006, jumlah Desa Seluruhnya yang ada di Kecamatan Bahorok menjadi 22 Desa ( 21 Desa + 1 Kelurahan, yaitu Kelurahan Pekan Bahorok ).
  • Pada Tahun 2007, berdasarkan Perda Nomor 27 tahun 2007 Tanggal 19 Desember 2007 tentang Pemekaran tiga Kecamatan, salah satu diantaranya adalah Kecamatan Sirapit dan pada Tanggal 18 Februari 2008 Dikukuhkan oleh Bupati Langkat H. Syamsul Arifin,SE. untuk mengisi Desa di Kecamatan Sirapit, diambil 4 ( empat ) Desa dari Kecamatan Bahorok antara lain :
  1. Desa Sumber Jaya
  2. Desa Sebertung
  3. Desa Amal Tani
  4. Desa Pulau Semikat
  • Maka jumlah Desa / Kelurahan yang ada di Kecamatan Bahorok yang ada sampai saat ini adalah 19 ( Sembilan Belas ) sebagai Berikut :
  1. Kelurahan Pekan Bahorok
  2. Desa Lau Damak
  3. Desa Batu Jong Jong
  4. Desa Ujung Bandar
  5. Desa Empus
  6. Desa Sematar
  7. Desa Perkebunan Turangi
  8. Desa simpang Pulo Rambung
  9. Desa Perkebunan Pulo Rambung
  10. Desa Tanjung Lenggang
  11. Desa Timbang Lawan
  12. Desa Timbang Jaya
  13. Desa Sampe Raya
  14. Desa Perkebunan Bukit Lawang
  15. Desa Sei Musam Kendit
  16. Desa Musam Pembangunan
  17. Desa Perkebunan Sei Musam
  18. Desa Suka Rakyat
  19. Desa Perkebunan Bungara
  20. Maksud dan Tujuan

        Penyusunan Expose tentang Kecamatan Bahorok dalam bentuk naskah atau paparan berupa data dan pernyataan serta penjelasan dari Camat Bahorok dalam rangka memenuhi tugas dari Bupati Langkat melalui Surat Sekretariat Daerah Kabupaten Langkat Nomor : 138 – 640 / Pem / 2015 Tanggal 6 April 2015 tentang Penilaian Kecamatan Terbaik tingkat Kabupaten Langkat Tahun 2015.

 

Selain itu, Expose Kecamatan Bahorok ini bertujuan untuk memberi informasi, gambaran yang kongkrit serta penjelasan bagi Tim Penilai dari Kabupaten Langkat dengan penyajian data-data, kondisi dan potensi tentang tingkat kemajuan pembangunan serta strategi kepemimpinan Camat Bahorok di masyarakat dalam mengelola segala potensi yang ada, baik secara administratif maupun operasional dalam masyarakat, sekaligus menjalankan tugas dan wewenang yang telah diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Langkat untuk mencapai pelayanan prima kepada masyarakat sesuai dengan Visi dan Misi Kecamatan Bahorok.

 

 

Mewujudkan Aparatur Pemerintah Kecamatan yang Berkualitas dan mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat “

 

Bagikan